MEMEGANG PERJANJIAN YANG KUDUS

Kejadian 17:1-27


Saat seorang anak diangkat jadi pewaris raja, Ia diberi jubah, kehormatan, dan janji besar. Namun sang raja berpesan, “Hiduplah sesuai martabatmu.” Demikian pula Allah memanggil Abraham dan kita.

Dalam Kejadian 17:1, TUHAN memanggil Abram (yang kemudian menjadi Abraham) untuk hidup tidak bercela. Allah bukan sekadar memberi janji, Ia juga menuntut kesetiaan dari umat yang dikasihi. Dalam ayat 9 ditegaskan lagi bahwa Allah memanggil Abraham dan keturunannya untuk memegang perjanjian dengan-Nya. Ini bukan perintah satu kali, melainkan panggilan hidup seumur hidup. Dalam hubungan perjanjian, Allah berinisiatif memberi janji dan manusia dipanggil untuk menanggapi. Hubungan perjanjian ini ditandai dengan sunat. Tanda sunat diberikan bukan sebagai beban melainkan sebagai lambang hidup yang dipisahkan atau dikuduskan bagi TUHAN. Abraham taat meski tak mengerti sepenuhnya. Ia percaya kepada Allah yang memanggilnya. Ketaatannya menjadi warisan iman turun-temurun dan teladan bagi umat percaya sepanjang zaman.

Kita pun dipanggil dalam perjanjian kasih yang kekal bukan dengan sunat jasmani, melainkan dengan hati yang diserahkan kepada Tuhan. Bukan sekadar menanti berkat, tetapi hidup taat di hadapan-Nya setiap hari. Ini adalah komitmen berjalan bersama Tuhan, menyerahkan arah hidup kepada-Nya dan taat melakukan kehendak-Nya. (Wasiat)

DOA:  Tuhan, di tengah segala pergumulan yang kami alami, ajarlah kami untuk selalu percaya pada kasih dan pemeliharaan-Mu, sehingga kami beroleh kekuatan dan sukacita dalam hidup. Amin.

Share this Post